Inspiring stories, short stories, religious stories, christmast stories ....

Monday, January 28, 2008

Tenzing Norgay

 adalah nama orang, mungkin buat kebanyakan dari kita  akan mengatakan nama yang aneh.....dari negara mana nama tersebut berasal?.... .
Mungkin Anda pernah membaca atau mendengar namanya...mungkin juga belum...bagaimana kalau saya sebutkan nama Sir Edmund Hillary...ya kalau yang ini sih saya sering dengar atau pernah baca biografinya atau pernah mendapatkan kisah hidupnya dalam sebuah artikel atau sewaktu mengikuti seminar.
Ya, Sir Edmund Hillary adalah orang pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi dunia Puncak Gunung Everest. Tetapi saat ini bukan Sir Edmund Hillary yang akan kita bahas, tetapi Tenzing Norgay.

Tenzing Norgay seorang penduduk asli Nepal yang bertugas sebagai pemandu bagi para pendaki gunung yang berniat untuk mendaki gunung Everest. Tenzing Norgay menjadi pemandu ( orang nepal menyebutnya Sherpa ) bagi Sir Edmund Hillary. Pada tanggal 29 Mei 1953 jam11.30, Tenzing Norgay bersama dengan Sir Edmund Hillary berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi Everest pada ketinggian 29,028 kaki diatas permukaan laut dan menjadi orang pertama didunia yang kemudian menjadi inspirasi dan penyemangat bagi ratusan pendaki berikutnya untuk mengikuti prestasi mereka. Pada rentang waktu tahun 1920 sampai dengan tahun 1952, tujuh tim ekspedisi yang berusaha menaklukkan Everest mengalami kegagalan.

Keberhasilan Sir Edmund Hillary pada saat itu sangat fenomenal mengingat baru berakhirnya Perang Dunia II dan menjadi semacam
inspirator untuk mengembalikan kepercayaan diri bagi seluruh bangsa di dunia. Karena keberhasilannya, Sir Edmund Hillary mendapatkan gelar kebangsawanan dari Ratu Inggris yang baru saja dilantik saat itu Ratu Elizabeth II dan menjadi orang yang paling dikenal di seluruh dunia.

Tetapi dibalik keberhasilan itu Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat besar, mengapa Tenzing Norgay tidak menjadi terkenal dan
mendapatkan semua yang didapatkan oleh Sir Edmund Hillary padahal ia adalah sang pemandu yang membantu dan mengantarkannya mencapai Puncuk Mount Everest? Seharusnya bisa saja ia lah orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Mount Everest bukan Sir Edmund Hillary.

Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut
mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter :
Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan  puncak gunung tertinggi di dunia?
Tenzing Norgay :
Sangat senang sekali
Reporter :
Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?
Tenzing Norgay :
Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia....
Reporter :
Mengapa Anda lakukan itu ???
Tenzing Norgay :
Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya ... impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIANnya.

Ya, itulah sekelumit kisah tentang seorang pemandu pendaki bernama Tenzing Norgay. Ia tidak menjadi serakah, ataupun iri dengan
keberhasilan, nama besar dan semua penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary. Ia cukup bangga dapat membantu orang lain mencapai & mewujudkan IMPIANnya.

DALAM KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI ATAU DALAM DUNIA KERJA, KITA SECARA PRIBADI ATAU TERKONDISIKAN UNTUK FOKUS KEPADA DIRI KITA SENDIRI, SIAPA YANG MENDAPAT NAMA, APA YANG KITA DAPATKAN ,PENGHARGAAN, KEHORMATAN , & SEBAGAINYA.
SEBAGAI RENUNGAN :
BISAKAH KITA MENJADI SEPERTI TENZING NORGAY ?
JAWABANNYA ADALAH ... SEBENARNYA BUKAN BISA ATAU TIDAK  ... TAPI MAU ATAU TIDAK !!!

ps. konon foto diatas adalah foto satu-satunya yang diambil oleh
sang reporter.

Tuesday, November 6, 2007

Persaingan Ayam Jantan

Di suatu peternakan ayam, didatangkan seekor ayam jago muda untuk
menggantikan ayam jago tua. Ayam pejantan tua yang ada sebenarnya
masih diandalkan, tetapi ayam pejantan muda itu dibeli untuk
regenerasi. Tentu saja pejantan tua ini tersinggung,


dan tidak mau begitu saja digeser. Maka dia menantang pejantan muda
untuk membuktikan siapa yang paling kuat dan hebat, dengan cara
berlari sepuluh kali memutari pagar halaman peternakan.

Ayam jago muda yang merasa bangga dengan statusnya, berpikir dengan
sombongnya bahwa dia dapat dengan mudah dapat mengalahkan ayam jago
tua. Bahkan dia berkata,

"Oke pak tua, kita bertanding! Bapak boleh berlari setengah putaran
lebih dahulu."

Wah, si pejantan muda ngasih "voor" ke yang tua. Maka mereka mulai
bertanding. Diiringi sorak-sorai ayam-ayam betina. Putaran ke satu,
jelas si Tua masih di depan. Putaran ke dua, mulai sedikit terkejar.
Putaran ke-empat, jaraknya makin kecil. Putaran ke lima si Muda sudah
tepat dibelakang si Tua. Sehingga kelihatannya mereka saling
berkejaran.

Peternak ayam yang mendengar ribut-ribut di peternakannya, keluar
membawa senapan, menduga mungkin ada maling atau binatang lain yang
mengganggu. Dia melihat balapan lari antar pejantan tersebut, dan
akhirnya dia mengangkat senapannya dan menembak mati pejantan muda.
Peternak pulang ke rumah sambil menggerutu,

" Sialan, tiga kali beli pejantan muda, semuanya banci."[fan]

Kain Penutup Muka Dokter

Seorang instruktur medis pada sebuah rumah sakit sedang memberikan
kuliah pada sekelompok gadis-gadis calon perawat.
"Mengapa dokter yang sedang melakukan operasi selalu memakai kain
penutup muka ?" tanya sang instrukur kepada mereka.
Salah seorang diantara mereka menjawab,
"Supaya bila dokter bedah melakukan kesalahan yang fatal, pasiennya
tidak dapat mengenalinya."


Biar Gampang Muntah

Suatu hari Heri naik bis, saat itu Heri melihat seorang nenek tampak
kepingin muntah. Lalu Heri bertanya pada nenek tersebut.
Heri: "Kenapa nek, nenek mual ya?"
Nenek: "Iya nak..."
Heri lalu membiarkan nenek tersebut. Lalu nenek itu bertanya:
Nenek: "Nak boleh lihat mukanya sebentar?"
Heri: "Boleh nek, tapi kenapa?"
Nenek: "Biar muntahnya gampang..."
Heri: "$#^&%%&&^$%^?..."


Cari Makan Sendiri

Ada seorang peternak sapi yang cukup berhasil dan punya beratus-ratus ekor sapi.
Pada suatu hari datanglah seorang petugas peternakan yang menyamar dan
bertanya "Setiap hari sapi-sapi ini bapak beri makan apa?".
Peternak "Oh saya beri makan rumput-rumput saja",
"Kalo begitu bapak saya denda karena telah memberi makan sapi-sapi ini
secara tidak layak" kata si petugas. "Bapak saya denda 2 juta".
Akhirnya selang beberapa hari kemudian petugas tadi datang kembali dan
menanyakan hal yang sama kepada si peternak.
"Bapak beri makan apa sapi-sapi ini.??" kata si petugas .
Si peternak menjawab "Saya beri makan keju, hamburger, & susu"
"Kalo begitu bapak saya denda 3 juta rupiah karena memberi makan
diluar batas sewajarnya...!!" kata si petugas.
Akhirnya seminggu kemudian datang lagi si petugas menayakan hal sama
kepada si peternak.
"Bapak beri makan apa sapi-sapi ini..??" tanya si petugas.
Akhirnya karena takut di denda lagi si peternak menjawab,
"Begini pak setiap hari semua sapi-sapi ini saya beri uang
masing-masing tiga ribu rupiah, terserah mereka mau makan dimana...!".


Membeli Paku dengan Kesal

Seorang anak hendak membeli paku di kios depan rumahnya. Sesampainya
di sana ia bertanya kepada bapak pemilik kios :
Anak : Pak mau beli pakunya sekilo
Bapak : Oh, iya dek. Dibungkus ya..?
Anak : (dengan kesal) Gak..... makan di sini!!!!


Penyakit yang Sering Dialami Oleh Cewek

Nangisuitis
Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut,mata kedip-kedip.
Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler,
bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit
ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).

Curhatitis B
Bawaanya pengen nyerocos, Efek samping rahasia orang bisa bocor,
terkena Nangisuitis,Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia
bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.

Shoping Syndrome
Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot,
Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika
sudah masuk stadium 4(parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba
minum hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).

Cerewetisme
Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma.
Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi
lebih halus karena sering mengelus. Lebih cepat makan pil dengar dan
minum tablet bicara lebih diperlambat.

Lamanian Dandanitos
Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang
sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak.
Efek samping: menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagean makanan.
Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan Taperi (tambah percaya diri).
Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum
mandi.

Cemburunotomy
Gejala muka lonjong, tangan mengepal, ali menukik. Coba cegah dengan
obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan
tablet selidiki dahulu.

Ngambekilation
Gejala hampir sama dengan Cemburubotomy. Minum Sabaron dan Bersyukurinis


Perangkap Raja

Ada suatu kerajaan dimana rajanya sangat protektif terhadap
permaisurinya. Setiap akhir bulan ia melakukan penyelidikan terhadap
pengawal-pengawal ratu, siapa-siapa saja kira-kira yang pernah 'main'
dengan sang permaisuri. Caranya yaitu dengan meletakkan perangkap di
dalam alat kelamin sang ratu. Jadi kalau ada yang 'masuk' ke dalam,
perangkap ini akan menutup dn memotong apapun yang masuk ke dalam.

Pada akhir bulan, pengawal-pengawal ratu dipanggil oleh raja. Pengawal
yang pertama disuruh membuka celananya dan ternyata anunya sudah
terpotong. Akhirnya si pengawal dihukum mati oleh raja. Begitupula
dengan pengawal yang kedua, ketika disuruh membuka celana ternyata
anunya sudah terpotong juga. Ia dihukum mati pula oleh sang raja.

Akhirnya tiba giliran pengawal yang ketiga untuk diperiksa. Seperti
halnya kedua pengawal tadi, ia pun disuruh membuka celananya dan
ternyata setelah diepiksa anunya masih utuh. Raja pun senang. Ia
berkata pada sang pengawal, "Nah ini baru pengawal saya yang baik,
setia sama saya. Oleh karena itu kamu sekarang saya kasih hadiah".

"Teeliimaa Kaasiii, Laajaa!" Ujar sang pengawal.


Bitch

Wanita seperti apakah yang umumnya didambakan oleh laki2?
Tak lain dan tak bukan adalah wanita tipe BITCH, yaitu
B eautiful
I ntelligent
T alented
C apable
H ot

Wednesday, August 15, 2007

AKAL BULUS

Pastor, saya mengaku dosa. Saya telah mencuri seekor ayam milik orang lain,"ucap Yakub kepada pastor.
"Wah tindakanmu itu salah besar."
"Maukah pastor menerima ayam itu?"
"Tentu saja tidak! Kamu harus mengembalikannya kepada pemiliknya."
"Tapi, pemiliknya menolak utnuk menerima kembali ayam itu, pastor."
"Oh, kalau begitu, ambillah ayam itu untukmu."
"Terima kasih, pastor."
Ketika pastor itu pulang kerumah, ia melihat jumlah ayam di kandangnya sudah berkurang. Salah seekor di antara ayam itu telah hilang.

Sumber: Setetes embun bagi jiwa, Timotius Adi Tan (Metanoia Publishing)

Tuesday, July 3, 2007

The Shoe Lady

By Melinda Neeley


    One cold and dreary day, after having been held hostage indoors by the grip of winter, I decided to break loose from the prison of inclement weather and hit a shoe sale. I had grown weary of the preceding weeks of sun deprivation and needed something that would break the monotony of my life – something that would lift my spirits.

Shortly after I arrived at the shoe store, I carefully selected my two pairs of shoes for the "Buy One Pair, Get the Other Pair Half Price" deal and was ready to purchase. As I moved my way up to the checkout counter, a middle-aged woman carrying at least six boxes of shoes whisked past me, cut in line and advanced directly to the cashier. An exhausted looking young woman and a bubbly toddler, unmistakably the woman's daughter and grandson, stood by her side. 

I was already furious that the woman had cut line, when suddenly she fueled my anger even more as she began spewing out questions to the cashier like a volcano erupting with red-hot lava. She demanded details about every pair of shoes she had selected. 

"So, if I buy this pair, I can get these other ones half off?" the agitated shoe lady bellowed.
The cashier shook her head no.
"Oh, I guess it's always the cheaper pair that you get half off," the shoe lady said, thinking out loud in an intimidating voice that echoed throughout the store. 

As the cashier attempted to respond again, the anxious shoe lady began shouting an order to her daughter: "Stephanie, run get your baby another pair of shoes. Lord knows he needs all the shoes he can get!"

The dimply youngster, probably not much older than a year, immediately darted after his mother, wide-eyed and full curiosity. He playfully yanked at all of the boxes along the shelves as he wobbled down the aisle, amazed at this magical playhouse filled with colorful adornments for the feet. 

"Boo-Boo," the grandmother screamed at the toddler viciously, "if you don't get back here, I'll shoot you!" It was a shocking, bizarre statement that was full of contradiction. In one breath, she was calling her grandson by a pet name, and in the other she was threatening to shoot him. Everyone in the store was stunned by the gruesome comment. We all stood amidst the pin-drop silence and stared, wondering what histrionics might be next. 
Stephanie soon came back and handed her mother another pair of shoes. After balancing them on her stack, the boisterous shoe lady then asked the cashier, "Got any more of these in another color?" pointing to one of her boxes near the top of the stack.

"No," the cashier said, noticeably irritated by this time. "Only in black."
At this point, the shoe lady turned to me and said, "So sorry to keep you waiting sugar," and immediately went to other shelves to find more bargains to add to her toppling stack of boxes. The stack now resembled the Leaning Tower of Piza.

At that instant, I realized there had been complete sincerity in this woman's voice. She seemed truly sorry to hold me up, but her "impulsiveness" was creating this urgent need to grab up as many bargains as she could for her daughter, her grandson and perhaps herself. The adrenaline from it all had become so overpowering that it had taken over her actions, and caused her to blurt out ugly comments to her grandbaby that she absolutely didn't mean. She couldn't restrain herself. It was filling her with a combination of excitement, impulsiveness and compulsive behavior. 

She was overflowing with more questions for the cashier, and continued adding to her stack for at least 10 more minutes. Strangely, my anger towards her began to subside and transform into understanding and compassion. Although she "appeared" selfish, hasty and mean as she bellowed orders and kept customers waiting, her motives, I realized, were good.

I decided to entertain myself by looking at the purses near the checkout counter until the woman was finished with her mission.
When the shoe lady was finally certain she had gotten all of the bargains she could possibly afford, and had created a mountainous potpourri of shoes for her loved ones, she grabbed up her sacks of treasures and politely said to the cashier, "Thank you so much darlin'." 

Instantly, her stormy behavior transformed into calming seas of relief – every muscle in her face became relaxed; her breathing and erratic movements slowed. The impulsiveness had lost its grip on her body and spirit, and her mission was complete. The sweetness in her tone had flavored her speech so that the bitterness was gone. I knew she was truly sorry for holding everyone up.

I had a revelation that day. People aren't always what they seem. Sometimes those who exhibit a snappy, angry and inconsiderate spirit are simply so wound up by impulse, compulsiveness and stress that it's hard for them to restrain from their bad behavior. Does this mean we should always forgive and forget? I'm not sure. I do know that there are people who are mean down to the core and who know exactly what they are doing when ugliness pours forth from their mouths.

But every single one of us has God in them. Sometimes it is seems almost impossible to find Him, but He is there. Always. I also realized that day that there are also people who don't even know God is inside of them. They just have to be able to recognize Him in others first. That is when they are able to discover the God who lives within their soul. This woman had God in her "sole."

Monday, July 2, 2007

Friends are God's way of taking care of us

- By an Anonymous Metro Denver Hospice Physician


    I just had one of the most amazing experiences of my life, and wanted to share it with my family and dearest friends. 

I was driving home from a meeting this evening about 5, stuck in traffic on Colorado Blvd., and the car started to choke and splutter and die - I barely managed to coast, cursing, into a gas station, glad only that I would not be blocking traffic and would have a somewhat warm spot to wait for the tow truck. It wouldn't even turn over. Before I could make the call, I saw a woman walking out of the "quickie mart" building, and it looked like she slipped on some ice and fell into a Gas pump, so I got out to see if she was okay. 

When I got there, it looked more like she had been overcome by sobs than that she had fallen; she was a young woman who looked really haggard with dark circles under her eyes. She dropped something as I helped her up, and I picked it up to give it to her. It was a nickel. 

At that moment, everything came into focus for me: the crying woman, the ancient Suburban crammed full of stuff with 3 kids in the back (1 in a car seat), and the gas pump reading $4.95. 

I asked her if she was okay and if she needed help, and she just kept saying " don't want my kids to see me crying," so we stood on the other side of the pump from her car. She said she was driving to California and that things were very hard for her right now. So I asked, "And you were praying?" That made her back away from me a little, but I assured her I was not a crazy person and said, "He heard you, and He sent me." 

I took out my card and swiped it through the card reader on the pump so she could fill up her car completely, and while it was fueling, walked to the next door McDonald's and bought 2 big bags of food, some gift certificates for more, and a big cup of coffee. She gave the food to the kids in the Car, who attacked it like wolves, and we stood by the pump eating fries and talking a little. 

She told me her name, and that she lived in Kansas City . Her boyfriend left 2 months ago and she had not been able to make ends meet. She knew she wouldn't have money to pay rent Jan 1, and finally in desperation had finally called her parents, with whom she had not spoken in about 5 years. They lived in California and said she could come live with them and try to get on her feet there. 

So she packed up everything she owned in the car. She told the kids they were going to California for Christmas, but not that they were going to live there. 

I gave her my gloves, a little hug and said a quick prayer with her for safety on the road. As I was walking over to my car, she said, "So, are you like an angel or something?" 

This definitely made me cry. I said, "Sweetie, at this time of year angels are really busy, so sometimes God uses regular people." 

It was so incredible to be a part of someone else's miracle. And of course, you guessed it, when I got in my car it started right away and got me home with no problem. I'll put it in the shop tomorrow to check, but I suspect the mechanic won't find anything wrong. 

Sometimes the angels fly close enough to you that you can hear the flutter of their wings... 

Psalms 55:22 "Cast thy burden upon the Lord, and He shall sustain thee. He shall never suffer the righteous to be moved." 

Saturday, June 30, 2007

Full Moon

By Yogesh Goel


As I sat on the park bench enjoying the cool night air and gazing at the people who were taking a break from the rest of the world, two young lovers passed me by. And I overheard the woman say, "Honey, why can't the moon always be this full and beautiful as it is tonight?"

He replied, "I don't know dear, but I am glad we were blessed enough to see another one together." And that made me, well at first shed a tear at their exchanged words, but then it made me ask myself, "Why doesn't it?"

Then, of course, knowing me, I thought and thought some more. Then I concluded, how can we ask the moon to constantly shine so beautiful night after night if we as humans can not find it in ourselves to do the same? Why can't we find what it takes to remain illuminating creatures when we bear witness time after time of the glorious dreams we have shown to be so capable of.

Why do we so often blow out our candles and let the darkness escape to cover up a portion of our glow? Do we cycle through our emotions the same as the moon? Or why can't we consistently find the peace and love that I can so clearly recognize in this young couple: the way they grip each others hand as if they never want to let go, the way they walk so slowly in rhythm with one another as if their heartbeats our setting the pace, and the way they stare at each other as if they have found the gateway to the soul in each other's eyes.

Then I think again: maybe we "can" control the moon's luster; it's wholeness. Just maybe if we can find it in our hearts ourselves to shine with such a radiance, then maybe, overtime will we begin to notice as we look towards heaven on a clear night that we shall see the moon as full and as bright as we ourselves choose to be. Maybe we only deserve to see this brilliance so often. And maybe only when enough people can accumulate over a cycle enough love, peace, and goodwill towards one another shall the moon dazzle us in all her beauty.

So now whenever I think the moon is going through her cycle again, I will tell myself, "No... She is waiting on us to go through ours."


***************************************************
ABOUT THE AUTHOR: Yogesh Goel
Qualifications :
• Pursuing Bachelor of Commerce (Hons.), Calcutta University. (July 2002 - Till Date)
• Intermediate in Commerce (ISC) from Don Bosco School Liluah, India. (April 2000 – March 2002)

Computer Literacy :
• Microsoft Office – Word, Excel, PowerPoint and Publisher.
• Image Editing / Graphics – PhotoShop, Illustrator, PageMaker, Image Ready, Ulead Cool 3D, Xara Webstyle, Xara 3D
• Web Design - MS FrontPage & Dream Weaver.
• Operating System – Windows 98, ME, XP

Work Experience :
• Web Site Developer and Hardware Engineer – WebRangers. (January 2001 - till Date)
Responsibilities – Pioneered in formation of the firm, dealing with clients, developing Web Sites, assembling computers, and was head of the management team.

Courtesy - http://www.yogeshgoel.8m.com,www.immortalstories.8m.com/

Friday, June 29, 2007

Surat Cinta

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang
alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika
saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya
harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya
dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta
berperasaan halus.
Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan
permen.
Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.
Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,"
jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.


Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah
pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya
pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya
akan merubah pikiran saya :

"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung.
Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.
Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat
yang bertuliskan ......

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya
untuk menjelaskan alasannya."



Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.

Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap
bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang
pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'.
Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau
meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku,
dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya
agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku
kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai,
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga
yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing
gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata
kamu mengalir.

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari
saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan
tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa
menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat
membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.


Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk
tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk
untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup
kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu
dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan
saya.


Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari
dia mencintai saya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang
dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta
dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir
dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan
kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga"
Powered By Blogger